MESIN PENCARI

Memuat...

Sabtu, 06 Agustus 2016

Musashi, Eiji Yoshikawa

Judul/Title: Musashi
Penulis/Author: Eiji Yoshikawa
Penerbit/Publisher:Gramedia
Edisi/Edition:
Halaman/Pages: 1247
Sampul/Cover: HArdcover
Bahasa/Language: Indonesia
Kategori/Category: Dijual/For Sale
Harga/Price: Call
Status: Ada/Available

***

Pernahkan anda berada dalam keadaan yang mengharuskan memilih satu diantara dua hal yang anda cintai dalam kehidupan yang hanya sekali ini? Pilihan sulit yang akan menentukan jalan hidup anda selanjutnya.
Hal ini dialami oleh Musashi seorang seniman pedang samurai legendaris dari Jepang, setidaknya begitu dalam novel “Musashi” yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa. Novel berjudul “Musashi” bercerita tentang perjalanan hidup seorang maestro pedang bernama Musashi. Musashi bukanlah tokoh fiktif, Musashi adalah tokoh yang benar-benar pernah hidup di Jepang. Menurut kata pengantar di bukunya, Musashi hidup antara tahun 1584-1645.
Takezo, veteran Perang Sekigahara (1600), menjelma menjadi Musashi setelah mengurung diri (belajar) di sebuah ruangan tua yang penuh dengan buku, selama 3 tahun dibawah ‘bimbingan’ seorang pendeta Zen bernama Takuan. Demi untuk mencapai cita-citanya yaitu kesempurnaan ‘Jalan Pedang’, Musashi mulai berkelana untuk mematangkan diri dan menguji ilmu pedangnya dengan cara menantang perguruan-perguruan samurai yang paling terkenal di Jepang saat itu.’Jalan Pedang’ adalah pilihan hidup yang mendedikasikan diri pada kesempurnaan berpedang, penyatuan jiwa dalam pedang yg akhinya bermuara
pada penyatuan diri dengan alam.
Dengan tinggi badan sekitar 175 cm (diatas rata2 orang Jepang pada masa itu), Musashi dengan mudah mengalahkan lawan-lawannya. Mengalahkan lawan bagi sosok Musashi adalah sangat mudah, dengan rata-rata hanya sekali tebas semua lawan2nya juntai tak berdaya. Tantangan terberatnya adalah justru mengalahkan dirinya sendiri yang liar, kasar, buas dan sering cepat merasa puas. Dari berbagai pertarungan dengan tokoh2 samurai kelas satu, Musashi semakin mengenal kelemahan dan kerapuhan dirinya. Semakin tahu
kelemahannya, semakin membara semangatnya untuk mencapai kesempurnaan.
Musashi berlatih dengan sangat keras, bahkan kadang-kadang orang lain mengira dia sedang menyiksa diriya. Bukan hanya latihan fisik saja, jiwanya pun dilatih untuk menjadi lebih disiplin. Bagi Musashi duel bukan hanya sekedar sabetan sebilah pedang belaka, bagi dia duel merupakan ritual jiwa ksatria yg suci (semangat busido?). Dia berlatih dengan keras karena dia sadar bahwa dia bukanlah seorang genius, dia hanyalah seorang ‘biasa’. Seorang ‘biasa’ dengan cita-cita luar biasa.

Manifesto Kalifatullah, Achdiat K. Miharja

Judul/Title: Manifesto Kalifatullah
Penulis/Author: Achdiat K. Miharja
Penerbit/Publisher: Arasy
Edisi/Edition: 2005
Halaman/Pages: 219
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Kategori/Category: Dijual/For Sale
Harga/Price: Call
Status: Ada/Available

***
Hasan, tokoh utama dalam novel ”Atheis” (1949) karya Achdiat K Mihardja memang telah meninggal di akhir cerita. Namun, pemikiran sang pengarang yang menulis novel tersebut tak ikut mati. Pengarang, bahkan setelah berpetualang dengan berbagai ilmu pengetahuan dan kini menetap di Australia, malahan mulai menyadari peran hidup yang harus ”diemban” manusia. Tidak ingin mati seperti Hasan, Achdiat lalu menulis novelet atau kisah panjang religius yang berjudul ”Manifesto Khalifatullah”.

Jika dalam Atheis Achdiat menghadapkan faham komunisme dengan Islam dan si tokoh utama, Hasan berada dalam tebing skeptisisme, kali ini Achdiat menghadapkan sekularisme dengan Islam. Tidak mau terjebak dalam ”jurang skeptisisme” yang pernah dipeluk Hasan, dengan lantang sastrawan yang hidup di lima zaman ini seperti mau meneguhkan: untuk apa Tuhan menciptakan manusia di muka bumi?

Jawaban yang digemakan pengarang kelahiran Garut, 6 Maret 1911, ini sangat tegas, ”Manusia adalah wakil Tuhan (khalifatullah) di muka bumi, bukan wakil setan.”Tak salah jika tulisan ini adalah khotbah Achdiat di usia senja soal keimanan. Sebab, dalam sejarah kesusastraan Indonesia bisa dikatakan Aki digolongkan sastrawan yang berpihak pada ateisme. Seperti menyadari akan kemurtadan Hasan, kini ia ingin mengumandangkan ke”insyaf”an Hasan dan menyeru supaya manusia kembali pada kesadaran religius.

Novel ini berkisah tentang pengembaraan filosofis tokoh ”aku” secara dialektika imajinatif dengan sejumlah penggagas aliran pemikiran dan ideologi besar dunia, seperti Siddharta, Adam Smith, Bacon, Karl Marx, Engels, Lenin, dan Nietzsche. Dari perkenalan dengan para penggagas ideologi-ideologi dunia itu, tokoh ”aku” sadar bahwa komunisme (diwakili Marx, Engel, dan Lenin) telah meniadakan eksistensi Tuhan dan menganggap bahwa agama tak lebih dari candu.

Lebih ekstrem, tokoh aku menceritakan Nietzsche dengan memegang suluh di tangan di siang bolong dengan lantang berkata telah membunuh Tuhan. Jelas saja, tokoh ”aku” terbengong-bengong. Sedangkan ideologi kapitalis-sekularisme (yang diwakili Adam Smith di bidang ekonomi dan Bacon di bidang pengetahuan) telah ”menyepelekan” Tuhan. Toh, kalau Tuhan itu dianggap ada, keberadaannya tidak bermakna dan tak berarti apa-apa. Dari kedua ideologi itu, tokoh ”aku” menyadari jika itu cerminan dari pemikiran manusia sebagai wakil setan dengan otak yang keblinger.

Tokoh ”aku” pun lalu dihinggapi keresahan teologis seusai berkenalan dengan mereka. Bersamaan dengan itu, tokoh ”aku” kedatangan kawan-kawannya, Chairil Anwar, ST Alisyahbana, Sanusi Pane, dan Sutan Syahrir. Tidak sempat mengguncang teologi yang dianut, dari pertemuan dengan kawan sejawat itu justru merasa belum terpuaskan. Alih-alih bisa sedikit tenteram, tokoh ”aku” malah dihantui keresahan karena ditikam kecewa yang amat berat. Sebab, tidak satu pun dari teman sejawat itu yang bisa mengisi kehausan spiritualnya. Chairil Anwar, misalnya, penyair heroik yang dikenal berani dengan takjub malah mengagumi Nietzsche. ST Alisyahbana mengagung- agungkan Barat.

Pemikiran yang dianut kedua teman sejawat itu pada intinya cenderung ke arah komunisme dan kapitalisme. Pendek kata, tetap meneguhkan individualisme, semangat egoisme dan egosentrisme, sehingga menjauhkan manusia dari Tuhan. Saat didera kebimbangan itulah, tokoh ”aku” bertemu dengan Abah Arifin, seorang kiai dusun dan pemimpin pesantren Alhamdulillah.

Rupanya, pertemuan tokoh ”aku” dengan kiai nyentrik itu memuaskan rasa dahaganya dari kebusukan mental dan watak setan yang selama ini menggerogoti sukma dan nuraninya. Sebab, dari kiai nyentrik itu, tokoh ”aku” kembali tersadarkan, terlebih setelah si kiai memberikan khotbah di Lembah Padasuka, tentang peran yang harus dipikul manusia—lewat kisah segi tiga (Tuhan, Manusia, dan Iblis) yang menandaskan tugas manusia di dunia adalah sebagai wakil Tuhan, bukan wakil setan.
***

Malcom X untuk Pemula, Bernard Aquina Doctor

Judul/Title: Malcom X untuk Pemula
Penulis/Author: Bernard Aquina Doctor
Penerbit/Publisher: Resist Book
Edisi/Edition: 2006
Halaman/Pages: 185
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Kategori/Category: Dijual/For Sale
Harga/Price: Call
Status: Ada/Available

***

Buku ini menggambarkan sebuah biografi Malcolm X, dan bagi saya cara penuturannya begitu mengalir dimana narasi dipadu dengan gambar yang sepadan. Buku ini seolah-olah lebih mengarah sebagai komik, tetapi bukan komik. 

Hal yang bisa saya tangkap dari buku ini, Malcolm X lahir pada tanggal 19 Mei 1925 di Omaha, Nebraska. Di masa kecil, Malcolm X menghadapi kehidupan yang sangat keras bahkan menyedihkan. Ayahnya meninggal dunia diduga dibunuh, dan ibunya gila akibat depresi.

Malcolm X menjalani kehidupan yang hampir seluruh kulit putih masyarakat Amerika sangat rasis terhadap kaum kulit hitam dan Malcolm X adalah salah satu dari kaum kulit hitam. Malcolm X pernah di penjarah dengan hukuman 10 tahun, akibat dari tindakan pergaulannya di masyarakat dan tekanan kehidupan. Saat bebas setelah mendekam di penjara selama 7 tahun, dia sadar ketika bertemu dengan Elijah Muhammad mengenai kehidupan dan bergabung dalam sebuah organisasi besar yaitu Nation of Islam.

Cinta dan Toleransi, M.Fethullah Gulen

Judul/Title: Cinta dan Toleransi
Penulis/Author: M.Fethullah Gulen
Penerbit/Publisher: BE Publishing
Edisi/Edition: Cetakan1 November- 2011
Halaman/Pages: 294
Sampul/Cover: Paperback
Bahasa/Language: Indonesia
Kategori/Category: Dijual/For Sale
Harga/Price: Call
Status: Ada/Available

***

Kebutuhan untuk dialog antarumat beragama telah mendapat penekanan dengan adanya berbagai peristiwa beberapa tahun terakhir ini. Dialog antaragama dipandang sebagai alternatif atas topik yang banyak didiskusikan, yaitu “benturan peradaban”. Mereka yang tidak setuju dengan teori bahwa benturan peradaban tidak akan dapat dihindari mengusulkan, selain dialog tentang peradaban, pertukaran pandangan untuk saling memperkaya, berbagi pandangan yang dapat membawa semua orang memahami secara mendalam hakikat Tuhan dan Kehendak Tuhan untuk umat manusia di planet ini.
Itulah yang dibahas dalam buku Cinta dan Toleransi (BE Publishing: 2012). Buku ini menghadirkan pandangan-pandangan salah satu tokoh muslim dan pemimpin spiritual yang berpengaruh di dunia Islam dewasa ini. Gerakan yang diilhami dan dipandu oleh M. Fethullah Gulen menawarkan kepada umat Islam untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai islami di tengah-tengah berbagai tuntutan masyarakat modern. Dari tempat asalnya di Turki, gerakan tersebut menyebar dengan cepat, melalui sekolah-sekolah di berbagai negara, melalui kegiatan-kegiatan kebudayaan dan media massa, dan melalui proyek-proyek sosial dan forum-forum dialog yang diselenggarakan orang-orang Turki yang tersebar di Eropa, Amerika Utara dan Australia hingga pengaruh gerakan Gulen dirasakan di semua wilayah, baik yang berpenduduk mayoritas beragama Islam maupun yang minoritas.
Buku ini memiliki tujuan ganda. Di satu sisi, buku ini mengajak umat Islam untuk benar-benar menyadari bahwa Islam mengajarkan perlunya dialog dan umat Islam dituntut untuk bisa menjadi agen-agen (khalifah Allah di muka bumi) dan saksi-saksi kasih sayang Tuhan yang universal. M. Fethullah Gulen menunjukkan pengetahuannya yang luas tentang Islam dengan membawa serta Al-Quran dan hadis yang dilaporkan dari Muhammad saw, dan pandangan-pandangan para tokoh muslim selama berabad-abad untuk membangun argumen yang meyakinkan bahwa toleransi, cinta dan kasih sayang adalah nilai-nilai Islam yang sebenarnya yang harus dibawa oleh umat Islam ke dunia modern.